Showing posts with label ÉCONOMIE MONDIALE. Show all posts
Showing posts with label ÉCONOMIE MONDIALE. Show all posts

Saham Minyak Pimpin Penurunan Wall Street

Bocornya sumur minyak BP menjadi perhatian pasar saham dalam beberapa pekan terakhir.
Renne R.A Kawilarang
Reaksi seorang pialang saat melihat papan indeks bursa saham Wall Street (AP Photo/Richard Drew)

VIVAnews - Setelah Wall Street libur sehari di awal pekan, indeks-indeks utama di bursa saham itu malah merosot cukup tajam. Penurunan ini terjadi setelah investor mendengar kabar pemerintah Amerika Serikat (AS) mulai melakukan penyelidikan kriminal atas bocornya ladang minyak di Teluk Meksiko. Kebocoran itu telah mencemarkan perairan di selatan Negeri Paman Sam itu.

Pada penutupan transaksi Selasa sore waktu New York (Rabu dini hari WIB), indeks harga saham industri Dow Jones turun 112,61 poin (1,1%) menjadi 10.024,02. Indeks Standard % Poor's 500 melemah 18,70 poin (1,7%) menjadi 1.070,71. Begitu pula dengan indeks komposit Nasdaq, turun 34,71 poin (1,5%) menjadi 2.222,33.

Sentimen di pasar langsung bereaksi negatif jelang penutupan begitu Jaksa Agung Eric Holder mengumumkan penyelidikan kriminal atas pencemaran lingkungan di Teluk Meksiko. Pencemaran itu akibat bocornya sumur minyak dari kilang milik British Petroleum (BP), yang meledak dan hancur beberapa pekan lalu.

Sampai kini BP belum mampu mengatasi bocornya sumur minyak bawah laut itu sehingga "emas hitam" tersebut terus menyembur ke luar. Dampaknya, selain menimbulkan pencemaran lingkungan, mata pencaharian nelayan setempat serta masyarakat pesisir selatan AS kini terancam.

Situasi itu sudah membuat Presiden AS, Barack Obama geram. Sebagai tindak lanjut, Jaksa Agung pun mulai melancarkan penyelidikan.

Holder tidak menyebut perusahaan atau individu yang akan terlibat dalam penyelidikan. Namun, mata para investor saham tertuju kepada BP.

Kabar penyelidikan itu membuat saham BP di Wall Street anjlok hampir 15%. Harga saham Anadarko Petroleum Corp., yang juga punya saham atas kilang minyak BP yang meledak itu, bahkan melemah 20%. Perusahaan layanan minyak Halliburton Inc turun hampir 15%.

Menurut pengamat, bocornya sumur minyak itu telah menjadi perhatian bagi pelaku pasar saham dalam beberapa pekan terakhir. Pasar khawatir bahwa peristiwa itu tidak menimbulkan bencana bagi lingkungan hidup namun juga berdampak negatif bagi ekonomi.

Pengumuman penyelidikan itu menimbulkan spekulasi bahwa perusahaan-perusahaan minyak yang bersangkutan bakal harus membayar denda yang besar dan kegiatan bisnis mereka akan terusik oleh penyelidikan hukum.

"Isu itu kini berisiko memporak-porandakan pasar," kata Ken Kamen, pengamat dari Mercadien Asset Management. Menurut Kamen, kabar penyelidikan itu membuat para trader kini berpikir untuk bermain aman dan enggan mempertaruhkan aset berskala besar. (Associated Press/np)

• VIVAnews

Tak Terpengaruh Spanyol, Saham Asia Naik

Turunnya peringkat utang Spanyol oleh Fitch sudah diantisipasi para investor saham di Asia
Renne R.A Kawilarang
Seorang pialang memakai kostum tradisional di Bursa Saham Tokyo (AP Photo/Katsumi Kasahara)

VIVAnews - Indeks harga saham di sejumlah bursa utama di Asia pada perdagangan di awal pekan ini bergerak naik. Kenaikan ini terjadi setelah banyak investor untuk sementara ini mengesampingkan dulu krisis keuangan di Eropa dan menyambut baik gejala-gejala penguatan ekonomi di Asia.

Dalam jelang penutupan transaksi Senin sore, Indeks Nikkei 225 di Jepang naik 45,13 poin (0,5%) menjadi 9.806,24 setelah muncul laporan bahwa ekonomi terbesar nomor dua di dunia itu mengalami peningkatan selama April lalu - atau dalam dua bulan berturut-turut. Pertumbuhan ekonomi ini didorong oleh situasi yang serupa di China dan negara-negara lain di Asia.

Indeks di bursa Taiwan naik 0,7% menjadi 7.349,65 dan indeks Kospi di bursa Korea Selatan menguat 0,8% menjadi 1.635,66 setelah saham produsen otomotif Ssangyong Motor Co. naik lebih dari 14%. Menguatnya saham Sangyong terjadi setelah ada kabar bahwa sejumlah produsen otomotif - termasuk perusahaan asal India, Mahindra & Mahindra Ltd. - berminat untuk membeli perusahaan Korea yang sedang mengalami masalah keuangan itu.

Indeks di bursa Australia hanya melemah 0,3% dan indeks Hang Seng di Hong Kong sedikit berubah di level 19.763,98.

Ini menandakan bahwa para investor Asia tidak banyak terpengaruh oleh kondisi di Wall Street, yang Jumat pekan lalu mengalami penurunan indeks Dow Jones sebesar 1,2% menjadi 10.136,63. Penurunan indeks Dow akhir pekan lalu terjadi setelah lembaga pemeringkat Fitch Ratings menurunkan peringkat kredit Spanyol.

Turunnya peringkat kredit versi Fitch yang dialami Spanyol membuat investor di Wall Street waspada bahwa masalah ekonomi jangka panjang terus mendera negara-negara Eropa yang bermasalah dengan utang.

Namun, kabar mengenai Spanyol itu tidak mengguncang sentimen para investor di Asia. Kabar atas Spanyol itu sudah lama diantipasi pasar Asia setelah Negeri Matador itu juga mengalami penurunan peringkat utang versi Standard & Poor's beberapa pekan lalu.

"Asia sudah mengantisipasi turunnya peringkat Spanyol," kata Francis Lun, pengamat dari Fulbright Securities Ltd. di Hong Kong. "Maka pasar-pasar Asia hari ini agak stabil. Bahkan indeks di Bangkok [yang dilanda krisis politik] juga naik," lanjut Lun.

Jackson Wong dari Tanrich Securities di Hong Kong juga melihat bahwa Asia kini bergerak stabil kendati masih ada kegelisahan di kalangan investor saham. "Momentumnya masih dalam suasana yang positif," lanjut Wong. (Associated Press)

(umi)

• VIVAnews

Reformasi Keuangan di AS Cemaskan Wall Street

Reformasi keuangan di AS dikhawatirkan bisa membatasi ruang gerak bisnis perbankan
SELASA, 25 MEI 2010, 08:01 WIB
Renne R.A Kawilarang
Seorang pialang di Wall Street cemas melihat turunnya harga saham (AP Photo/Richard Drew)

VIVAnews - Harga saham keuangan memimpin penurunan indeks di bursa Wall Street. Penurunan ini menandakan bahwa para investor kali ini resah oleh rencana reformasi peraturan keuangan di Amerika Serikat (AS) dan masih berlangsungnya krisis utang di Eropa.

Di akhir transaksi Senin sore waktu New York (Selasa dini hari WIB), indeks harga saham industri Dow Jones turun 126,82 poin (1,2%) menjadi 10.066,57. Indeks Standard & Poor's 500 melemah 14,04 poin (1,3%) menjadi 1.073,65. Begitu pula dengan indeks komposit Nasdaq, turun 15,49 poin (0,7%) menjadi 2.213,55.

Investor kini menyorot undang-undang reformasi peraturan keuangan yang diusulkan oleh pemerintahan Barack Obama. Rancangan Undang-undang (RUU) itu sudah disetujui Senat pekan lalu dan kini tengah dibahas di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Para trader masih belum mendapat kejelasan seperti apa reformasi keuangan yang tengah digodok di Kongres, apakah juga akan dicantumkan usulan dari Senat bahwa bank-bank besar harus melepas bisnis derivatif mereka. Bisnis itu membawa keuntungan besar, namun disertai risiko yang besar pula. Ketidakjelasan itu akhirnya menimbulkan spekulasi yang tidak enak didengar.

Pelaku pasar saham khawatir bahwa RUU itu kian membatasi ruang gerak perbankan dan perusahaan-perusahaan keuangan. Spekulasi itulah yang membuat para pelaku pasar berhati-hati dalam bertransaksi saham-saham keuangan di Wall Street.

Situasi ini justru menambah tekanan bagi pasar karena para trader sudah diresahkan dengan situasi di Eropa.

"Mereka kini takut pulang ke rumah dan bertanya-tanya,'Kejadian apa lagi yang akan menimpa Eropa sepanjang malam? Apakah akan ada perkembangan baru?" kata Joe Saluzzi, pengamat dari Themis Trading LLC.

Terkait dengan krisis utang di Eropa, para investor kini juga mengamati perkembangan di Spanyol. Pasalnya, Bank Sentral Spanyol kini campur tangan untuk menyelamatkan salah satu bank besar di negeri itu, Cajasur, setelah gagal merger dengan bank lain. Ini merupakan kali kedua Bank Sentral Spanyol berupaya membantu bank swasta. (Associated Press)

• VIVAnews

Euro Anjlok, Wall Street Kembali Tergelincir

Kurs euro kembali mencetak rekor terendah dalam 4 tahun terakhir, yaitu sebesar US$1,2160
RABU, 19 MEI 2010, 07:58 WIB
Renne R.A Kawilarang
(AP Photo/Richard Drew)

VIVAnews - Setelah sehari sebelumnya sedikit menguat, indeks-indeks di bursa Wall Street kini kembali turun. Para investor rupanya khawatir setelah muncul kabar bahwa kurs euro, lagi-lagi, turun dan Jerman berencana memperketat aturan transaksi saham short-selling.

Di akhir transaksi Selasa sore waktu New York (Rabu dini hari WIB), indeks harga saham industri Dow Jones turun 114,88 poin (1,1%) menjadi 10.510,95. Indeks Standard & Poor's 500 melemah 16,14 poin (1,4%) menjadi 1.120,80. Begitu pula dengan indeks komposit Nasdaq, turun 36,97 poin (1,6%) menjadi 2.317,26.

Di awal transaksi saham, nilai tukar euro atas dolar tadinya sempat mengangkat sentimen pasar setelah kursnya menguat menyusul dikucurkannya pinjaman darurat (bailout) dari Uni Eropa kepada Yunani. Langkah itu menambah kepercayaan pasar atas kemampuan Eropa dalam mengantisipasi wabah krisis utang Yunani ke negara-negara lain.

Namun, jelang penutupan transaksi saham di sore hari, antusiasme pasar mulai redup dan kurs euro atas dolar kembali turun. Itulah yang membuat indeks harga saham kembali melemah. Bahkan pada transaksi Selasa waktu New York, kurs euro kembali mencetak rekor terendah dalam 4 tahun terakhir, yaitu sebesar US$1,2160.

Sebagai mata uang yang dipakai di 16 negara Eropa, euro dalam beberapa pekan terakhir menjadi penggerak sentimen di pasar saham. Naik turunnya kurs euro, bagi pelaku pasar, menandakan tinggi rendahnya kemampuan Eropa dalam mengatasi krisis keuangan di sejumlah negara anggotanya. Setelah Yunani, Portugal dan Spanyol - menurut hasil survei Standard & Poor's - mulai dianggap bermasalah dengan utang masing-masing.

Pelaku pasar saham pun resah dengan keputusan Jerman yang melarang praktik naked short-selling. Praktik ini terjadi saat trader mempertaruhkan saham atau investasi yang bukan milik pribadi.

Larangan naked short-selling itu meliputi sertifikat utang pemerintah dan saham sejumlah perusahaan keuangan. Larangan itu diterapkan untuk menjaga kestabilan pasar keuangan.

Namun, para investor resah dengan keputusan Jerman itu karena mengingatkan mereka dengan langkah yang diambil pemerintah AS di tengah krisis keuangan 2008 dan tidak dapat banyak membantu dalam menghadapi krisis keuangan di sejumlah negara Eropa.

"Bila Eropa benar-benar lambat, ancamannya juga akan meliputi perekonomian global," kata Bruce McCain dari Key Private Bank di Cleveland. (Associated Press)


• VIVAnews

Harga Saham Teknologi Pimpin Kenaikan

Sementara itu, harga minyak mentah di bursa New York turun 72 sen menjadi US$75,65/barel
KAMIS, 13 MEI 2010, 08:53 WIB
Renne R.A Kawilarang
(AP Photo/Richard Drew)

VIVAnews - Sejumlah kabar baik perekonomian di Amerika Serikat (AS) dan Eropa membuat indeks-indeks harga saham di Wall Street terus membaik untuk menutupi keterpurukan sepanjang pekan lalu.

Di akhir transaksi Rabu sore waktu New York (Kamis dini hari WIB), indeks harga saham industri Dow Jones naik 148,65 poin (1,4%) menjadi 10.896,91. Indeks Standard & Poor's menguat 15,88 poin (1,4%) menjadi 1.171,67. Begitu pula dengan indeks komposit Nasdaq, naik 49,71 poin (2,1%) menjadi 2.425,02.

Saham-saham teknologi memimpin kenaikan indeks setelah para investor memindahkan aset mereka ke saham perusahaan-perusahaan teknologi. Aksi itu dilakukan setelah mendapat proyeksi positif dari IBM Corp. sekaligus menyambut laporan pendapatan dari Cisco Systems Inc selama triwulan pertama tahun ini.

Selain itu Departemen Perdagangan mengungkapkan bahwa tingkat ekspor di AS Maret lalu berhasil mencapai level tertinggi sejak 2008. Ini dipandang pertanda bagus bagi industri manufaktur, yang kinerjanya terus membaik sejak tahun lalu. Bila pesanan produk terus meningkat, maka perekrutan tenaga kerja juga bertambah dan ini bisa memperkuat pemulihan ekonomi AS.

Para pengamat juga menilai bahwa rebound indeks harga saham itu menandakan bahwa para investor kini mulai percaya bahwa masalah utang di Eropa dapat ditanggulangi. Sebelumnya, para investor khawatir bahwa Eropa mulai kesulitan mengatasi krisis utang Yunani, yang bisa mewabah, dan dampaknya bagi penurunan nilai tukar euro atas dolar.

Para investor juga antusias menyambut kabar dari Eropa. Sebagai ekonomi terbesar di Eropa, Jerman mengungkapkan bahwa pertumbuhan ekonomi di negerinya selama triwulan pertama tahun ini meningkat lebih besar dari perkiraan. Spanyol, yang sudah diwanti-wanti Standard & Poor's atas masalah utang di negaranya, kini mulai melakukan efisiensi anggaran.

Kabar-kabar ini memperkuat kepercayaan investor di pasar saham. Sejak awal pekan ini, saham di Wall Street dan manca negara perlahan-lahan mulai bangkit setelah para pemimpin Eropa dan IMF sepakat menganggarkan dana siaga hampir US$1 triliun untuk stabilisasi kurs euro.

Sementara itu, harga minyak mentah di bursa New York untuk kontrak Juni turun 72 sen menjadi US$75,65/barel. Penurunan terjadi setelah Badan Energi Internasional memprediksi bahwa permintaan minyak global tahun ini lebih rendah dari proyeksi sebelumnya. (Associated Press)

• VIVAnews

Uni Eropa, IMF Siapkan Dana Selamatkan Euro

Krisis utang Yunani telah berdampak pada turunnya kepercayaan pasar atas euro
SENIN, 10 MEI 2010, 10:12 WIB
Renne R.A Kawilarang
Euro (AP)

VIVAnews - Uni Eropa (UE) dan Dana Moneter Internasional (IMF) sepakat menyediakan dana sebesar hampir US$1 triliun untuk mengantisipasi kepanikan pasar atas mata uang euro. Dana ini juga untuk mengantisipasi serangan spekulan atas negara-negara pengguna euro (eurozone), yang ekonominya tengah bermasalah, sekaligus mempertahankan pemulihan di Eropa yang masih berjalan.

Dalam pertemuan selama 11 jam di Brussels (Belgia), Minggu 9 Mei 2010 waktu setempat, kalangan petinggi UE beserta para menteri keuangan Eropa sepakat menyediakan dana siaga untuk tetap menstabilkan nilai mata uang euro, yang terus turun menyusul kekhawatiran pasar atas menularnya krisis utang Yunani ke sesama negara Eropa. Program penyelamatan itu berlangsung selama tiga tahun.

Komisi Eropa - sebagai lembaga eksekutif UE - menyediakan 60 miliar euro (US$75 miliar). Selain itu, 16 negara angggota eurozone menjanjikan dukungan dana 440 miliar euro (US$570 miliar). Menteri Keuangan Spanyol, Elena Salgado, mengungkapkan bahwa IMF juga dapat menyiapkan 250 miliar euro.

"Kita harus mempertahankan [nilai tukar] euro dengan segala cara," kata Ketua Komisi Eropa bidang Keuangan, Olli Rehn.

Pertemuan darurat akhir pekan itu berlangsung setelah muncul kekhawatiran dari pasar keuangan bahwa krisis utang di Yunani mulai mewabah ke sesama pengguna euro, yaitu Portugal dan Spanyol. Gejala itu sudah dideteksi oleh lembaga pemeringkat utang, Standard & Poor's, yang dua pekan lalu menurunkan peringkat Spanyol dan Portugal.

Krisis utang itu pada akhirnya berdampak pada turunnya kepercayaan pasar atas euro, sehingga kurs mata uang itu atas dolar pekan lalu telah anjlok. "Kita telah menghadapi suasana yang luar biasa dan mekanisme yang telah dibuat akan berlaku selama yang diperlukan untuk memastikan stabilitas keuangan," demikian pernyataan para menteri keuangan Eropa. (Associated Press) (wm)

• VIVAnews

Krisis Yunani Picu Harga Minyak Anjlok

Pelaku pasar kembali menghadapi naiknya persediaan minyak mentah di AS
KAMIS, 6 MEI 2010, 08:33 WIB
Renne R.A Kawilarang
Reaksi para pialang di New York melihat pergerakan harga minyak (AP Photo/Mary Altaffer)

VIVAnews - Dalam dua hari berturut-turut harga minyak mentah di bursa New York menderita penurunan drastis. Selain masih khawatir dengan dampak negatif krisis utang di Yunani bagi ekonomi Eropa, pelaku pasar kembali menghadapi naiknya persediaan minyak mentah di AS.

Menurut laman harian The Wall Street Journal, harga minyak untuk kontrak Juni berdasarkan transaksi Rabu sore waktu New York (Kamis dini hari WIB) turun US$2,77 (3,5%) menjadi US$79,97/barel. Di bursa London, harga minyak turun US$3,06 (3,6%) menjadi US$82,61/barel.

Penurunan ini diakibatkan pelaku pasar minyak mentah melontarkan reaksi yang sama dengan para investor saham terkait dengan krisis utang di Yunani.

Mereka khawatir bahwa pinjaman darurat (bailout) sekitar US$144 miliar kepada Yunani, yang akhir pekan lalu sudah disetujui negara-negara pengguna euro (eurozone) dan Dana Moneter Internasional (IMF), sudah terlambat mencegah menularnya krisis utang ke negara-negara lain - seperti yang telah diwanti-wanti kalangan pasar selama berbulan-bulan.

Banyak investor menilai bahwa negara-negara lain yang juga bermasalah dengan utang pada akhinya juga mengajukan bailout. Survei dari lembaga pemeringkat utang Standard & Poor's pekan lalu sudah mendeteksi bahwa Portugal dan Spanyol mulai bermasalah dengan keuangan mereka.

Krisis di Yunani itu juga dipandang menjadi beban bagi eurozone dan ini berpengaruh pada lunturnya kepercayaan pasar akan mata uang euro. Kurs euro atas dolar pun melemah. Di pasar minyak mentah, menguat dolar otomatis membuar harga minyak turun.

Selain itu investor kembali terpukul dengan naiknya persediaan minyak mentah di AS, yang menandakan bahwa konsumsi energi di negara itu masih lemah. Departemen Energi melaporkan bahwa stok minyak mentah per pekan lalu naik 1,3 juta barel. (hs)

• VIVAnews

Sejumlah Kabar Positif Gairahkan Wall Street

Akuisisi maskapai United Airlines atas Continental Airlines turut dongkrak sentimen pasar
SELASA, 4 MEI 2010, 07:28 WIB
Renne R.A Kawilarang
(AP Photo/Richard Drew)

VIVAnews - Indeks-indeks harga saham di Wall Street berhasil naik dalam perdagangan di awal pekan. Ini berkat sejumlah laporan positif ekonomi AS dan pembelaan konglomerat Warren Buffet atas bank investasi Goldman Sachs, yang sedang terjerat kasus hukum.

Berdasarkan transaksi Senin sore waktu New York (Selasa dini hari WIB), indeks harga saham industri Dow Jones naim 143,22 poin (1,3%) menjadi 11.151,83. Ini merupakan poin tertinggi Dow sejak 16 Februari lalu.

Indeks Standard & Poor's menguat 15,57 poin (1,3%) menjadi 1.202,26. Begitu pula dengan indeks komposit Nasdaq, naik 37,55 poin (1,5%) menjadi 2.498,74.

Aksi borong para investor mengangkat kembali indeks-indeks harga saham yang sempat turun Jumat pekan lalu berkat laporan yang menunjukkan tanda-tanda penguatan belanja konsumen dan produksi manufaktur di AS.

Departemen Perdagangan AS mengungkapkan bahwa belanja personal selama Maret lalu naik 0,6 persen. Ini merupakan kenaikan terbesar dalam lima bulan terakhir. Namun, pendapatan personal hanya naik 0,3 persen. Data-data itu sesuai dengan perkiraan para analis, namun ini menunjukkan bahwa konsumen kini tampak percaya diri mengeluarkan lebih banyak uang dari tabungan mereka untuk melakukan pembelian.

Di saat yang sama, lembaga survei The Institute for Supply Management mengungkapkan bahwa kegiatan manufaktur di AS bulan lalu naik, dari 59,6 poin di bulan Maret menjadi 60,4 poin. Ini sedikit lebih besar dari proyeksi ekonomi, 60 poin.

Para investor pun menyambut antusias kesepakatan akuisisi maskapai United Airlines atas Continental Airlines Inc. senilai US$3miliar. Ini menunjukkan tanda positif penguatan ekonomi dari sektor korporat.

"Merjer maskapai penerbangan itu hal yang bagus. Ini berarti ada nilai dari pembelian itu," kata Anthony Conroy, pengamat dari BNY ConvergEx Group.

Sementara itu, naiknya saham keuangan dan perbankan juga dipicu oleh komentar Buffet akhir pekan lalu. Dia tidak yakin bila Goldman Sachs melakukan penipuan kepada investor, seperti yang dituduhkan pemerintah melalui Komisi Sekuritas dan Pasar Modal (SEC). Pimpinan Goldman sendiri membantah tuduhan itu. (Associated Press) (hs)



• VIVAnews

Harga Minyak Kembali Tembus US$85/barel

Namun harga minyak mentah dipandang tidak lagi realistis dengan masih rendahnya permintaan
JUM'AT, 30 APRIL 2010, 08:06 WIB
Renne R.A Kawilarang
Reaksi para pialang di New York melihat pergerakan harga minyak (AP Photo/Mary Altaffer)

VIVAnews - Harga minyak mentah di bursa New York berhasil naik secara signifikan hingga kembali menembus US$85/barel. Kenaikan terjadi setelah pasar menerima laporan turunnya jumlah pemohon tunjangan pengangguran di AS dan mendongkrok optimisme bahwa pemulihan ini bisa mengangkat tingkat permintaan minyak mentah.

Menurut laman CNNMoney, berdasarkan transaksi Kamis sore waktu New York (Jumat dini hari WIB), harga minyak mentah untuk kontrak Juni naik US$1,95 (2,3 persen) menjadi US$85,17/barel. Ini merupakan harga tertinggi sejak 15 April lalu.

Sama dengan reaksi di bursa saham, para investor di pasar minyak antusias mendengar laporan dari Departemen Tenaga Kerja ASbahwa jumlah pemohon baru tunjangan pengangguran per pekan lalu turun 11.000 orang hingga menjadi 448.000 aplikan. Menurut kantor berita Associated Press, ini merupakan penurunan dalam dua pekan berturut-turut dan ini dapat mempertebal harapan bahwa tingkat pengangguran di AS bisa turun.

Laporan itu menyusul kabar baik dari Bank Sentral AS (The Fed) sehari sebelumnya. Selain menyatakan bahwa pemulihan ekonomi di AS berada di jalur yang tepat, The Fed untuk saat ini masih tidak berminat menaikkan tingkat suku bunga, yang mendekati nol persen.

Perkembangan demikian membuat harga minyak mentah kembali naik. Namun, menurut pengamat, tingginya harga minyak saat ini lebih karena pengaruh eksternal dan tidak realistis dengan tingkat permintaan. Buktinya, persediaan minyak AS kian bertambah dan ini menandakan masih rendahnya permintaan.

"Tidak diragukan bahwa kita kini berada dalam situasi ekonomi yang lebih baik," kata Stephen Schork, pengamat dari Schork Group yang dikutip laman harian The Wall Street Journal. "Namun, tidak ada indikasi bahwa permintaan bakal melampaui persediaan [minyak mentah]," lanjut Schork.

Dia pun menilai bahwa pembelian minyak oleh para investor akhir-akhir ini tak bedanya dengan memborong saham, dengan berharap bahwa tingkat permintaan akan menyesuaikan harga yang sudah tinggi. (hs)

• VIVAnews

Klaim Pengangguran Turun, Wall Street Puas

Dalam dua pekan berturut-turut jumlah pemohon baru tunjangan pengangguran di AS turun
JUM'AT, 30 APRIL 2010, 07:41 WIB
Renne R.A Kawilarang
Reaksi para pialang di Wall Street atas naiknya harga saham (AP Photo/Richard Drew)

VIVAnews - Indeks harga saham di bursa Wall Street berhasil melanjutkan kenaikan berkat munculnya kembali laporan positif atas pendapatan sejumlah korporat dan perkembangan pengangguran di Amerika Serikat (AS).

Di akhir transaksi Kamis sore waktu New York (Jumat dini hari WIB), indeks harga saham industri Dow Jones naik 122,05 poin (1,1 persen) menjadi 11.167,32. Dalam dua hari terakhir, indeks Dow kini sudah naik 175,33 poin.

Indeks Standard & Poor's 500 menguat 15,42 poin (1,3 persen) menjadi 1.206,78. Begitu pula dengan indeks komposit Nasdaq, naik 40,19 poin (1,6 persen) menjadi 2.511,92.

Para investor saham antusias mendengar laporan dari Departemen Tenaga Kerja AS bahwa jumlah pemohon baru tunjangan pengangguran per pekan lalu turun hingga menjadi 448.000 aplikan. Ini merupakan penurunan dalam dua pekan berturut-turut dan menjadi indikator penting untuk memperkirakan apakah tingkat pengangguran di AS kini bisa ditekan.

Selain itu, pasar pun menyambut baik munculnya lagi laporan pendapatan sejumlah korporat periode triwulan pertama tahun ini, yang menunjukkan hasil positif. Kali ini Motorola, Time Warner Cable, dan Starwood Hotels & Resorts mencatat hasil yang memuaskan.

Sentimen pasar sebelumnya juga terpengaruh oleh kabar bahwa Hewlett-Packard Co. membeli perusahaan ponsel pintar Palm Inc. senilai US$1,4 miliar. Akuisisi demikian merupakan pertanda bahwa ekonomi mulai pulih dan sektor korporat telah percaya diri mengeluarkan anggaran untuk memperluas bisnis.

"Bisnis kini sedang dalam posisi yang sangat kuat secara finansial," kata Doug Lockwood, pengamat dari Conerstone Wealth Management di Auburn, Indiana.

Namun, pelaku pasar saham tetap menaruh perhatian atas perkembangan krisis utang di Eropa - yang bermula dari Yunani, namun kini merambah ke Portugal dan Spanyol. "Krisis Yunani merupakan puncak dari gunung es bagi Uni Eropa," kata Guy LeBas, pengamat dari Janney Montgomery Scott di Philadephia.

Dia menilai bahwa krisis utang ini berpotensi mengganggu pemulihan ekonomi di Eropa dan meruntuhkan nilai tukar euro - mata uang yang selama ini dipakai 16 negara Uni Eropa, termasuk negara-negara yang terkena krisis utang. Pada akhirnya, krisis di Eropa turut menyusahkan AS dan negara-negara lain. (Associated Press) (hs)


• VIVAnews

Krisis Utang di Eropa Lemahkan Saham Asia

Yang ditakutkan adalah bila Yunani dan Portugal dipandang sebagai babak awal krisis utang
Renne R.A Kawilarang
Reaksi para pialang Bursa Saham Tokyo melihat turunnya indeks (AP Photo/Koji Sasahara)

VIVAnews - Indeks harga saham di sejumlah bursa di Asia kembali terperosok dalam perdagangan Rabu sore, 28 April 2010. Penurunan ini merupakan reaksi para investor, yang sudah mewanti-wanti bahwa krisis utang di Yunani ternyata telah menyebar ke negara tetangga di Eropa, Portugal.

Indeks Nikkei 225 di Jepang turun 2,5 persen menjadi 10.931,30. Para investor di Jepang lebih menghiraukan krisis utang di Eropa ketimbang terus antusias atas sejumlah laporan positif pendapatan sektor korporat domestik di triwulan pertama tahun ini.

Indeks Hang Seng di Hong Kong turun melemah 1,3 persen menjadi 20.994,27 dan indeks Kospi di Korea Selatan turun 1,2 persen menjadi 1.728,25. Penurunan indeks juga melanda bursa saham di Australia, China, dan India.

Tanda-tanda menyebarnya krisis utang ke Portugal terlihat setelah lembaga pemeringkat Standard & Poor's menurunkan peringkat utang negara itu, dari A-plus jadi A-minus. Oleh Standard & Poor's, Yunani pun kembali mengalami penurunan peringkat ke level yang lebih rendah (junk rating).

Banyak investor, baik di Wall Street maupun di Asia, bahwa penurunan peringkat itu membuat Yunani dan Portugal kian sulit untuk membayar utang sekaligus mencari pemasukan tambahan untuk mendanai anggaran masing-masing bila tidak ditopang oleh pinjaman darurat luar negeri.

Kepercayaan pasar atas mata uang euro pun menurun dan dikhawatirkan situasi itu bisa mengganggu pemulihan ekonomi global. Padahal, selama berbulan-bulan para pengamat dan investor khawatir bahwa krisis utang bisa mewabah bila Yunani tidak segera dibantu.

Sebenarnya pekan lalu negara-negara sesama pengguna euro (eurozone) dan Dana Moneter Internasional (IMF) sudah menyiapkan pinjaman siaga lebih dari US$50 miliar untuk Yunani. Namun, pinjaman itu tampaknya sudah terlambat untuk mencegah menularnya krisis utang. Portugal pun diperkirakan bakal mengandalkan bantuan luar negeri.

"Yang ditakutkan adalah bila Yunani dan Portugal dipandang sebagai babak awal [krisis utang]," kata Lorraine Tan, pengamat dari Standard & Poor's di Singapura. "Masalahnya, [krisis] ini akan meluas dan berdampak pada sistem keuangan dan pada akhirnya ke perekonomian," lanjut Tan.

Sementara itu, dalam perdagangan valuta, kurs dolar atas yen naik dari 93,07 yen menjadi 93,14 yen per dolar. Namun nilai tukar dolar atas euro melemah dari US$1,3155 menjadi US$1,3203 per euro. (Associated Press) (umi)

• VIVAnews


Portugal Terjangkit Krisis Utang, Saham Turun

Setelah Yunani, Portugal kini bermasalah dengan utang
RABU, 28 APRIL 2010, 08:53 WIB
Renne R.A Kawilarang
Reaksi seorang pialang melihat anjloknya harga saham (AP Photo/Jin Lee)

VIVAnews - Indeks harga saham di bursa Wall Street kembali terperosok setelah para investor mendapat laporan bahwa krisis utang di Yunani kini menyebar ke sesama negara pengguna euro, Portugal. Situasi ini dipandang bisa mengancam pemulihan ekonomi global.

Berdasarkan transaksi Selasa sore waktu New York (Rabu dini hari WIB), indeks harga saham industri Wall Street turun 213,04 poin (1,9 persen) menjadi 10.991,99. Ini merupakan penurunan terbesar bagi Dow sejak indeks itu turun 268,37 poin pada 4 Februari lalu.

Indeks Standard & Poor's 500 melemah 28,34 poin (2,3 persen) menjadi 1.183,71. Begitu pula dengan indeks komposit Nasdaq, turun 51,48 poin (2 persen) menjadi 2.471,47.

Tanda-tanda menyebarnya krisis utang ke Portugal terlihat setelah lembaga pemeringkat Standard & Poor's menurunkan peringkat utang negara itu, dari A-plus jadi A-minus, setelah melakukan hal yang sama dengan Yunani beberapa waktu lalu. Sama dengan Yunani, Portugal bisa jadi memerlukan bantuan luar negeri.

Oleh Standard & Poor's, Yunani pun kembali mengalami penurunan peringkat ke level yang lebih rendah (junk rating).

Turunnya peringkat utang Portugal dan Yunani itu membuat kurs euro atas dolar melemah lebih dari 1,1 persen dan itu merupakan penurunan terbesar bagi euro dalam kurun waktu setahun. Di saat yang sama, harga emas dan obligasi Departemen Keuangan AS naik karena para investor memindahkan modal ke aset yang lebih aman.

"Itu merupakan reaksi yang otomatis [dari pasar]," kata Brian Peardon, pengamat dari Harrison Financial Group di Citrus Height, California. Dia menilai bahwa kendati ekonomi Yunani dan Portugal relatif kecil dibanding tetangga-tetangga mereka di Eropa, namun mereka berpotensi gagal bayar utang. Situasi ini akan turut membuat susah negara-negara lain yang membeli obligasi mereka dan kepercayaan pasar atas euro pun kian menurun.

"Ini merupakan ujian besar bagi euro," kata Quincy Krosby, pengamat dari Prudential Financial. Maka, Uni Eropa "perlu rumusan yang dapat diandalkan untuk menghadapi isu tersebut," lanjut Krosby.

Negara-negara yang bermasalah dengan utang juga kemungkinan kian sulit untuk membelanjakan anggaran dalam jumlah besar demi menstimulasi ekonomi domestik sekaligus membantu pemulihan ekonomi global. (Associated Press)

• VIVAnews

Keputusan The Fed Turut Dongkrak Harga Minyak

Pelaku pasar minyak turut antusias dengan keputusan The Fed yang tidak mengubah suku bunga
KAMIS, 29 APRIL 2010, 07:52 WIB
Renne R.A Kawilarang
(http://www.abc.net.au)

VIVAnews - Harga minyak mentah di bursa New York berhasil bangkit berkat pengumuman dari pimpinan Bank Sentral AS (The Fed), yang tidak menaikkan suku bunga dan penilaian positif mereka atas beberapa fundamental ekonomi.

Menurut laman harian The Wall Street Journal, berdasarkan transaksi Rabu sore waktu New York (Kamis dini hari WIB), harga minyak mentah light sweet untuk kontrak Juni naik 78 sen (1 persen) menjadi US$83,22/barel. Di bursa London, harga minyak mentah Brent naik 38 sen (0,4 persen) menjadi US$86,16/barel.

Para pelaku pasar minyak turut mengikuti sentimen di bursa saham. Mereka saat ini mengesampingkan dahulu kekhawatiran atas laporan Standard & Poor's, yang sehari sebelumnya menurunkan peringkat utang Yunani dan Portugal dan kini juga menurunkan peringkat utang Spanyol.

Maka, mereka menyambut gembira keputusan The Fed yang lagi-lagi mempertahankan tingkat suku bunga, yang mendekati nol persen. Kantor berita Associated Press mengungkapkan, setelah rapat selama dua hari, pimpinan The Fed juga menilai bahwa pasar tenaga kerja di AS kini "mulai menunjukkan perbaikan" walau perekrutan tenaga kerja baru belum sebesar yang diharapkan. The Fed pun mengungkapkan bahwa pasar perumahan juga mulai membaik.

Para pelaku pasar minyak akhir-akhir ini cenderung lebih antusias pada perkembangan eksternal setelah mereka yakin bahwa saat ini tingkat permintaan minyak mentah belum membaik. Mereka pun memupus sejenak kekhawatiran bahwa persediaan minyak mentah di AS terus bertambah.

Menurut laporan mingguan Departemen Energi AS, seperti yang dikutip laman CNNMoney, persediaan minyak mentah naik 1,9 juta barel. Stok bahan bakar selain bensin pun naik 2,9 juta barel, kendati persediaan bensin turun 1,2 juta barel. (umi)

• VIVAnews

Investor Ragukan Yunani, Harga Minyak Turun

Keraguan itu mempengaruhi lemahnya nilai tukar euro atas dolar
SELASA, 27 APRIL 2010, 08:21 WIB
Renne R.A Kawilarang
Kilang Minyak di Pancevo Serbia (AP Photo)


VIVAnews
- Harga minyak mentah di bursa New York kembali berkutat di level US$84/barel. Situasi ini disebabkan keragu-raguan para investor mengenai penyelesaian krisis utang di Yunani yang pada akhirnya memperlemah nilai tukar euro atas dolar.

Laman harian The Wall Street Journal mengungkapkan, berdasarkan transaksi Senin sore waktu New York (Selasa dini hari WIB), harga minyak mentah light sweet turun 92 sen (1,1 persen) menjadi US$84,20/barel. Di bursa London, harga minyak mentah Brent melemah 42 sen menjadi US$86,83/barel.

Menurut para pengamat, fokus investor masih pada penyelesaian krisis utang Yunani, yang berpotensi menyebar ke negara-negara lain. Di akhir pekan lalu, Yunani resmi mengajukan pinjaman talangan yang sudah disiapkan oleh sesama negara-negara pengguna euro (eurozone) dan Dana Moneter Internasional (IMF), sebesar lebih dari US$50 miliar.

Namun, para investor masih ragu dengan kemampuan Yunani dalam mengatasi masalah utangnya mengingat negara itu dibebani dengan bunga pinjaman dan defisit anggaran yang sangat besar. Keraguan ini mempengaruhi lemahnya nilai tukar euro atas dolar sebesar 0,3 persen. Sesuai dengan logika pasar, dengan menguatnya kurs dolar atas euro, harga minyak mentah pun turun.

Pengamat dari MF Global, Mike Fitzpatrick, kepada laman CNNMoney menilai bahwa penyelesaian krisis utang di Yunani bukan berarti langsung menyelesaikan masalah. Dua tetangga Yunani, Portugal dan Irlandia, juga mulai khawatir atas utang masing-masing yang juga relatif besar.

Masalah utang Yunani bisa "menaikkan bunga hasil obligasi [utang negara] di penjuru dunia dan bisa menghambat pemulihan [ekonomi]," kata Fitzpatrick.

Kini, para investor menunggu survei terbaru dari The Conference Board mengenai indeks kepercayaan konsumen dan hasil rapat Bank Sentral AS mengenai suku bunga. (umi)

• VIVAnews

Transaksi Minyak di Asia Tembus Harga US$86

Naiknya ekonomi di China dan Singapura berdampak positif bagi permintaan minyak mentah
Kamis, 15 April 2010, 13:51 WIB
Renne R.A Kawilarang
kilang mini minyak blok Cepu di Kalitidu, Bojonegoro, Jawa Timur (Antara/ Aguk Sudarmojo)

VIVAnews - Harga minyak mentah untuk perdagangan Asia di bursa New York kini menembus US$86/barel. Para investor antusias dengan laporan pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara Asia setelah sebelumnya menanggapi positif turunnya stok minyak mentah di Amerika Serikat (AS).

Berdasarkan transaksi elektronik dari bursa New York yang dipantau di Singapura, Kamis siang, harga minyak mentah untuk kontrak Mei naik 25 sen menjadi US$86,09/barel. Dalam transaksi langsung di New York dini hari tadi, harga minyak melonjak US$1,79 menjadi US$85,85/barel.

Para pelaku pasar minyak mintah antusias atas tanda-tanda penguatan ekonomi di sejumlah negara Asia. China hari ini mengumumkan bahwa tingkat produk domestik bruto pada triwulan pertama tahun ini naik 11,9 persen dari periode yang sama di tahun lalu. Sehari sebelumnya, Singapura pun mengalami pertumbuhan ekonomi yang serupa.

Menurut kalangan pengamat, naiknya pertumbuhan ekonomi di Asia itu berpengaruh positif bagi konsumsi energi. "Permintaan minyak dari negara non anggota OECD (kelompok negara maju) terus meningkat pada laju yang fenomenal," demikian laporan Barclays Capital. "Harga kini kian stabil pada rentang US$80 hingga US$90/barel," lanjut laporan itu.

Seperti di New York, sentimen para pelaku bursa minyak di Asia juga terangkat setelah Departemen Energi AS mengungkapkan laporan mingguan stok minyak mentah, yang ternyata turun 2,2 juta barel. Sebelumnya, survei para pengamat yang dihimpun oleh Platts/McGraw-Hill Cos. justru memperkirakan peningkatan stok 1,6 juta barel.

Sementara itu, harga minyak Brent di bursa London naik 21 sen menjadi US$86,36/barel. (Associated Press)

• VIVAnews

My Playlist


MusicPlaylistRingtones
Create a playlist at MixPod.com

I Gotta Feeling

Seguidores